PUSAT ZENI
Search
Close this search box.

SEJARAH SATUAN

             Pada era Hindia Belanda, terdapat tentara kerajaan di zaman Hindia Belanda bernama Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang juga memiliki satuan Kesenjataan Zeni atau Wapen der Genie. Satuan ini sendiri termasuk satuan bantuan tempur yang bertugas untuk membantu melancarkan pergerakan para pasukan infanteri serta pergerakan lainnya. Dalam satuan kesenjataan tersebut, terdapat pengawas beserta perwira. Tugas dari satuan ini adalah untuk membangun perbentengan, kamp, jembatan, penghancuran, landasan udara, hingga sarana perhubungan. Pada tahun 1981, satuan kesenjataan tersebut bertugas untuk mengurus mobil hingga melatih para sopir serta montir. Beberapa tokoh Indonesia yang pernah menjalani dinas di Zeni KNIL diantaranya adalah Jenderal Tahi Bonar Simatupang selaku mantan Kepala Staf Angkatan Perang, Mayor Jenderal Hein Victor Worang selaku mantan Gubernur Sulawesi Utara, serta Frederich Silaban yang merupakan arsitek Masjid Istiqlal. TB Simatupang sangat menyadari terkait pilihannya untuk bergabung pada satuan Zeni. Biasanya, keanggotaan ditentukan berdasarkan pemilihan anggota prajurit yang cerdas secara akademik. TB Simatupang menyatakan bahwa Ia memilih satuan ini karena memenuhi syarat untuk diterima sebagai bagian dari Zeni dimana memiliki angka-angka yang cukup tinggi pada pelajaran eksakta.Pada masa revolusi, anggota kesenjataan satuan ini tidak mengalami perkembangan. Dalam hal ini termasuk kavaleri, artileri, serta pasukan tank dan meriam yang dikuasai oleh anggota TNI. Pada masa ini, diketahui bahwa pembangunan TNI pasukan darat lebih banyak fokus pada infanteri.Moehkardi menyatakan dalam Pendidikan Pembentukan Perwira TNI-AD 1950-1956 bahwa sekelompok pemuda yang dipimpin oleh Ir Suratin telah sukses menyebabkan komandan tentara Jepang menyerahkan berbagai peralatan. Dalam hal ini, Moehkardi, Suratin, serta Ir Nowo membangun satuan Zeni yang diberi nama Dinas Genie pada Kementerian Pertahanan yang selanjutnya diberi nama Zeni pada 15 Oktober 1945.

               Pusat  Zeni Angkatan Darat (disingkat Pusziad) merupakan salah satu Badan Pelaksana Pusat di tingkat TNI Angkatan Darat, yang bertugas pokok membina dan menyelenggarakan fungsi Zeni dan Nubika TNI AD dalam rangka pelaksanaan tugas pokok TNI AD. Zeni sebagai salah satu kecabangan di dalam TNI AD mempunyai kemampuan melaksanakan fungsi teknis militer Zeni, baik di daerah pertempuran maupun daerah pangkalan, sehingga Satuan Zeni AD dapat diklasifikasikan sebagai satuan bantuan tempur dan satuan bantuan administrasi.
“Zeni” sendiri berasal dari bahasa Belanda Genie yang berarti pandai/banyak akalnya. Pada awal berdirinya Kesatuan Zeni kata Genie masih dipergunakan, namun seiring dengan perubahan Ejaan Yang Disempurnakan kata Genie di-Indonesiakan menjadi “Zeni”. Kesatuan ini merupakan kesatuan standar militer di seluruh dunia karena perannya dalam pertempuran sejak zaman purba, karena pada intinya fungsi bantuan tempur Zeni adalah bersifat improvisasi, insidentil, dan menggunakan standar teknik yang khusus dikualifikasikan pada Satuan Zeni. Zeni Tempur sendiri secara umum baik di luar negri maupun di Indonesia mempunyai fungsi sebagai pasukan Bantuan Tempur terhadap Pasukan Manuver (Infanteri) berupa Bantuan Tempur Zeni (Banpurzi) dan Bantuan Administrasi Zeni (Banminzi).
Banpurzi diaplikasikan pada segala pekerjaan yang bersifat membantu gerak maju pasukan manuver, dan aksi menghambat gerak maju pasukan lawan, sedangkan Banminzi adalah segala upaya kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan oleh prajurit Zeni di medan Tempur dalam rangka membantu pasukan manuver agar tetap dapat bertahan di luar perbekalan, peralatan, serta komunikasi, karena ketiga masalah ini menjadi tanggung jawab satuan korps perbekalan, korps peralatan, dan korps komunikasi. Bantuan Administrasi Zeni hanya bersifat kebutuhan yang bersifat taktis dan teknis di medan tempur. 9 Kemampuan Zeni AD terdiri dari: Konstruksi, Destruksi, Rintangan, Samaran, Penyeberangan, Penyelidikan, Perkubuan, Penjinakan bahan peledak (Jihandak), serta Nuklir-Biologi-Kimia (Nubika) pasif.